Pentingnya Pengukuran Kualitas Udara di Lingkungan Kerja

Sebagai support serta jawaban kepada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan( Permenaker) Nomor. 5 Tahun 2018 mengenai Keamanan serta Kesehatan Kerja( K3) Area Kerja, PT Sucofindo menyosialisasikan kedudukan pengukuran mutu hawa di area kerja bagaikan implementasi Permenaker 05 atau 2018 sepanjang era pandemi Covid- 19.

“Pengaruh kualitas udara di lingkungan kerja perlu diperhatikan terutama di masa pandemi ini. Hal ini karena berdasarkan penelitian kualitas udara dalam satu ruangan dapat menjadi salah satu faktor paparan Covid-19,” ujar saat membuka webinar.

Direktur Komersial 2 PT Sucofindo (Persero), M. Haris Witjaksono mengatakan, kualitas udara menjadi bagian dari kesehatan dan sanitasi yang perlu diperhatikan di lingkungan kerja. “Kebutuhan atas udara yang bersih dan sehat harus dipenuhi pada setiap lingkungan kerja. Oleh karena itu, pelaku usaha wajib menyediakan sistem ventilasi udara untuk menjamin kebutuhan udara pekerja dan mengurangi kadar kontaminan di lingkunan kerja,” kata Haris.

Selanjutnya, Agustin Wahyu Ernawati, Kepala Sub Direktorat Pengawasan Norma Ergonomi Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya Kemnaker RI, menyatakan bahwa implementasi kualitas udara di lingkungan kerja menjadi syarat dari K3. “Kualitas udara ini menentukan kenyamanan lingkungan kerja, seperti diukur pada suhu, kelembaban, kadar oksigen dan kadar kontaminan udara,” ujar Agustin.

Oleh karena itu, dibutuhkan dan diwajibkan adanya pengujian secara berkala di lingkungan kerja.“Namun, saat ini implementasinya belum optimal dalam manajemen K3. Penyakit dan kecelakaan akibat kerja masih tinggi, terlebih di masa pandemi ini penerapan K3 menjadi garda terdepan. Penerapan K3 pun menjadi upaya meminimalisir klaster baru di lingkungan kerja,” kata Agustin.

Dalam jasa K3, Sucofindo melayani Jasa Audit SMK3 dan kapasitas serta kapabilitasnya secara resmi ditunjuk oleh Kemenaker RI sejak tahun 1996. Sucofindo pun memiliki kapasitas untuk melakukan audit atas penerapan SMK3  dan hasilnya akan dijadikan acuan oleh Departemen Tenaga Kerja dalam menerbitkan sertifikat SMK3. “Selain itu, Sucofindo juga dilengkapi dengan laboratorium yang memadai dan tersebar di seluruh titik Indonesia,” tambah Haris.

Selanjutnya Haris menambahkan bahwa bagi Sucofindo pengendalian potensi bahaya K3 dalam proses bisnis organisasi melalui penerapan SMK3 merupakan bentuk partisipasi organisasi sebagai salah satu potensi dalam membangun terciptanya zero accident perusahaan serta budaya K3 Nasional yang lebih baik.

Sebagai komitmen Sucofindo dalam meminimalisir penyebaran COVID-19 di lingkungan Kerja, juga melayani jasa pengujian kualitas udara dan jasa disinfection monitoring. Jasa ini memonitor bagaimana perusahaan menerapkan protokol kesehatan serta melakukan cek atas keefektifan proses disinfektasi di lingkungan usaha, terutama di bagian yang sering terpapar publik.

Selain itu,  Sucofindo juga menyediakan layanan jasa penyemprotan disinfektan. Layanan ini meliputi Indoor Cold Fogging yaitu penyemprotan disinfektan di dalam ruangan (kantor, gudang, ruang produksi) dengan menggunakan mesin ULV Cold Fogger dan Outdoor Mist Blowing yaitu penyemprotan area luar di sekeliling bangunan kantor atau pabrik yang berjarak satu sampai 2 dua meter dari dinding bangunan dengan menggunakan mesin Mist Blower.

Perusahaan ini pun memiliki jasa baru Sertifikasi ARISE, yaitu pedoman para pelaku usaha menjalankan bisnisnya yang disesuaikan dengan kebijakan pemerintah, terutama terkait dengan protokol kesehatan dan tata aturan New Normal.

Sertifikasi ARISE secara umum memiliki skema dalam memantau sumber bahaya dari paparan Covid-19, antara lain dengan cara tidak menerima tamu dari daerah atau negara zona merah dan kuning.

Persyaratan lainnya terkait Engineering control, menciptakan pembatas berupa kaca atau plastik transparan di petugas front office, meningkatkan nilai tukar udara ruangan untuk meminimalkan terjadinya resirkulasi udara dalam ruangan tempat berkumpul sehingga menimimalkan penularan melalui droplet yang ada di udara. Setelah itu lewat administrative control pengaturan melindungi jarak dengan pengunjung, tidak bersalaman, pemeriksaan temperatur tubuh; dan PPE/ APD dalam kelengkapan serta pemakaian masker serta hand sanitizer.

Sumber : SWA