PERKEMBANGAN K3

PERKEMBANGAN K3

Sejarah keselamatan kerja sudah dimulai sejak lama. Bukti pertama yang mungkin ditemukan dalam sejarah keselamatan kerja merupakan Kode Hammurabi, yang dibuat sekitar tahun 1760 SM. Dalam Kode Hammurabi, bahkan disebutkan tentang asuransi kapal.

Ketika revolusi industri kedua pada masa-masa akhir abad ke 18, keselamatan kerja tidak hanya menjadi perhatian dari orang yang bekerja tetapi juga mereka yang mendesain, mengatur dan memiliki pekerja (Revolusi Industri pertama adalah transisi dari masa berburu ke masa pertanian yang menetap, diperkirakan 12 ribu tahun lalu).

Professor Emeriti Andrew Hale dan Jan Hovden telah menjelaskan perkembangan keselamatan kerja menjadi 3 masa. Penjelasan ini dikutip oleh Erik Hollnagel, seorang Profesor di University of Southern Denmark, dalam bukunya “Safety I dan Safety II: The Past and Future of Safety Management”. 3 masa perkembangan keselamatan kerja terdiri dari “Tahap Tekhnologi”, “Tahap Faktor Manusia” dan “Tahap Safety Management”.

Tahap Pertama: Tekhnologi

Pada tahap pertama perkembangan keselamatan kerja ini, ancaman utama untuk keselamatan kerja muncul dari tekhnologi yang digunakan dalam arti bahwa tekhnologi yang ada (kebanyakan adalah mesin uap) tidak familiar digunakan dan tidak reliabel serta pekerja atau pemberi kerja belum belajar bagaimana untuk menganalisa dan mengendalikan resiko. Fokus utama dalam tahap ini adalah untuk menemukan pelindung aman untuk kontak dengan mesin (safe guard machinery), menghentikan ledakan mesin dan mencegah struktur ambruk. Tahap ini terjadi pada permulaan revolusi industri (1769) di mana pemahaman resiko baru telah dibangun.

Tahap Kedua: Faktor Manusia

Tahap pertama perkembangan keselamatan kerja membangung anggapan bahwa dengan mengendalikan bahaya dari sumbernya (mesin/tekhnologi) dapat menyelematkan banyak nyawa manusia. Anggapan ini akhirnya hancur berantakan setelah bencana nuklir Three Mile Island (TMI) pada tahun 28 Maret 1979. Sebelum kecelakaan ini, konsesus para ahli menganggap bahwa metode HAZOP, FMEA, Fault Tree dan Event tree serta PRA sudah cukup untuk memastikan keselamatan kerja. Bahkan, US Nuclear Regulatory Commission telah menyatakan instalasi di Three Mile Island dalam kondisi aman.

Tahap Ketiga: Safety Management

Anggapan bahwa kegagalan tekhnologi merupakan penyebab kecelakaan tetap bertahan sepanjang 200 tahun, namun anggapan terhadap aspek manusia sebagai penyebab kecelakaan hanya bertahan selama sekitar 1 dekade. Tahapan keselamatan kerja dunia pun berajak ke tahap yang ketiga: Tahap Safety Management.

Tahapan ini dimulai dari kecelakaan seperti kecelakaan pesawat ulang alik, meledaknya reaktor nomor 4 chernobyl dan tabrakan 2 pesawat Boeing 747 di Bandara Tenerife Utara. Kecelakaan-kecelakaan ini sangat banyak melibatkan faktor organisasi sehingga para ahli mulai menyadari bahwa organisasi harus diperhatikan terlebih dahulu sebelum faktor manusia.

Banyak peneliti di masa ini menemukan bahwa budaya organisasi memiliki dampak signifikan terhadap pemebelajaran sebuah organisasi terhadap keselamatan kerja.

Pada saat ini, praktek dalam penilaian resiko dan safety management masih dalam transisi dari tahap kedua ke tahap ketiga. Banyak juga yang telah menyadari bahwa penilaian resiko dan safety management harus memperhatikan faktor organisasi seperti budaya keselamatan kerja atau faktor blunt end (faktor kebijakan keselamatan kerja).

Keselamatan kerja memang terus berkembang, bahkan Erik Hollnagel sendiri telah menciptakan gagasan untuk Safety II yang berfokus untuk melihat apa yang menjadi benar (what goes right) daripada apa yang menjadi salah (what goes wrong). Lantas, di tahap mana kita berada sekarang.

Sumber : Katigaku Top

Perusahaan Anda mau Implementasi dan Sertifikasi ISO 45001? Baiknya dengan Jasa Konsultan ISO 45001, Tenang Sistem Manajemen  Keselamatan & Kesehatan Kerja. Improve lebih baik , Segera Hubungi Qyusi Consulting.